twitter



Seorang gadis termenung di depan jendela kamar, menatapi bulan sabit yang muncul malu-malu di balik awan. Hembusan angin malam menerpa wajahnya dengan lembut. Hamparan padi yang terletak di belakang rumah mulai terlihat menguning meski di tengah gelapnya malam. Pepohonan berayun-ayun diterpa angin, seakan mengajaknya menari. Dia menghela napas panjang, sibuk dengan pikirannya sendiri. Besok, dia harus pindah dari desa dan meninggalkan semua pemandangan indah ini.
Ayahnya, Joko Kirsan, memutuskan untuk tinggal di Jakarta dengan harapan memperbaiki ekonomi keluarga. Beberapa hari lalu, rumahnya dibakar. Mereka mengambil tanahnya untuk membangun tempat wisata. Mereka tidak memberi ganti rugi, hanya memberi sejumlah uang yang tidak akan pernah bisa menggantikan rumah yang lama. Bukan karna rumahnya dulu adalah sebuah rumah yang besar. Tapi dia membangun rumah itu dengan tangannya sendiri. Satu-satunya adikarya yang pernah dia punya. Pernikahannya jelas sekali bukan adikarya. Istrinya bodoh, mereka bahkan tidak tahu cara berkomunikasi. Mereka tidak pernah bersekolah.
Berbeda dengan Komar, yang mati-matian disekolahkannya agar menjadi sebuah adikarya.
Hari pertama di sekolah baru, Komar gugup sekali dan bisa merasakan detak jantungnya yang berdebar lebih cepat. Tak ada satupun yang dia kenal disini, dan mereka juga tidak peduli dengan kehadirannya. Ditemani Bu Dwi, dia masuk ke kelasnya dan sangat takjub ketika melihat kelas yang luas dengan jumlah murid terbatas, papan tulis berwana putih, lantai ubin yang jarang ditemuinya dan meja putih tanpa coretan sedikitpun yang sangat berbeda dengan keadaan sekolahnya di desa yang berlantai tanah liat, meja reyot dan papan tulis kapur, membuat siapapun batuk-batuk kalau duduk di barisan depan. Lamunannya terpecah ketika diminta memperkenalkan diri di depan teman-temannya oleh Bu Dwi.
Komar ke depan dan tersenyum manis. “Halo teman-teman. Nama saya Komariah…”
“Hahahaha… namanya kampungan!” sahut salah satu murid laki-laki sambil menunjuk wajah Komar dengan geli yang langsung ditegur oleh Bu Dwi. Seketika, murid seisi kelas pun ikut menertawakan Komar. Belum selesai memperkenalkan diri, Komariah kembali duduk di kursinya dengan rasa kesal dan mata berkaca-kaca, dia bisa merasakan panas di wajahnya karena malu. Murid-murid masih memerhatikannya dengan pandangan aneh dan menahan tawa. Komar bertanya-tanya di dalam hati apa yang salah dari dirinya, namun dia tetap berusaha untuk tenang dan bersabar, bersabar menunggu bel pulang sekolah berbunyi.
Jakarta pada siang hari sangatlah terik. Apalagi angkot yang ditumpanginya penuh sesak. Komar bergegas mengganti seragam sekolah untuk membantu ayahnya mencari sesuap nasi guna membiayai anggota keluarganya dengan berjualan bubur di pinggir jalan depan gang rumah mereka hingga sore dan pulang ke rumah untuk beristirahat dengan mendorong gerobak yang masih menyisakan banyak porsi bubur ayam.
Pagi hari ketika Komar terbangun dari tidurnya, dia teringat desanya yang dulu. Desa yang tidak mengenal kemacetan dan kebisingan. Desa yang air sungainya mengalir jernih dan pepohonannya rindang membuat Komar malas untuk pergi ke sekolah, ditambah dengan perilaku temannya yang menjengkelkan tidak seperti teman-temannya di desa dulu. Namun, dia tetap bergegas mempersiapkan diri untuk bersekolah, lalu berjalan sambil menunggu angkot yang lewat setelah berpamitan dengan ayah yang sangat menyayanginya.
Di sekolah, ketika Komar berjalan menuju kursinya, dia terkejut mendengar ejekan tentang ayahnya. “Komar anak jokbur, Komar anak Joko tukang bubur”. Entah dari mana mereka tahu bahwa ayah Komar adalah penjual bubur. Tapi Komar acuh dan pergi meninggalkan teman-teman yang mengejeknya.
Hal yang sama terjadi berulang kali, mereka terus-menerus melecehkan pekerjaan Joko. Komar tidak tahan lagi dan mengadu pada ayahnya sambil menangis. “Pak, Komar mau pindah sekolah ke kampung saja, pak”.
“Mengapa kamu mau pindah?” tanya Joko.
“Saya nggak kuat di sekolahan diejek melulu, pak” jawab Komar.
Seminggu sebelum mengikuti ujian, Komar bahkan meminta ayahnya agar ke sekolah. Maksudnya agar Joko menegur teman-teman yang kerap mengejeknya. Dengan meminjam sepeda, Joko segera ke sekolah Komar. Setibanya di sekolah, Joko malah bingung apa yang harus disampaikan pada teman-teman Komar. Akhirnya, Joko mencoba meyakinkan Komar untuk bersabar dan mengatakan bahwa menjual bubur adalah pekerjaan yang halal.
“Sudah, kamu ikut tes saja dulu” ujar Joko.
Dalam hati, Joko sudah bertekad akan memindahkan Komar ke sekolah di desa neneknya, di Jawa Tengah sesudah ujian nanti.
Di rumah, ketika Komar sendirian di kamar dan hanya bisa mengingat ledekan teman-temannya, dia melihat kabel televisi yang tidak terpakai lagi. “Kabel ini cantik juga jika dililitkan di leherku” pikirnya. Satu, dua, tiga.
Segalanya terasa seperti gerakan lambat. Satu-satunya adikarya Joko yang tersisa, dia melayang, mungkin karna badannya terlalu ringan.

0 komentar:

Poskan Komentar